Posted in Catatan Sehari-hari

Update Biaya Rapid Test di Mataram

Sesuai Surat Edaran No 9 Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, ketentuan huruf F ayat (2) huruf b angka 2, menyebutkan bahwa masa berlaku hasil PCR dan Rapid Test Negatif untuk perjalanan dapat berlaku 14 hari, yang semula hanya 3 hari (untuk Rapid) dan 7 hari (untuk PCR). Tentu saja hal ini direspon cukup baik oleh berbagai elemen yang semula terkendala dengan persyaratan kesehatan ini, terlebih harga testnya mulai dari ratusan ribu rupiah.

Download petikan Surat Edaran No.9 Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-1

Continue reading “Update Biaya Rapid Test di Mataram”
Posted in cerpen

Madya Terlibat Kasus

Madya Terlibat Kasus
Gambar dilansir dari Kumparan.com

Pagi itu, tepat ketika embun kaki gunung sudah mulai mengering, anak-anak sudah berkumpul di dalam Mushola. Cukup dingin memang, dengan pemandangan dan udara yang bersih, ternyata harus dibayar mahal dengan udara yang sedingin suhu cooler lemari es. Bukan hal yang aneh ketika melihat rata-rata siswa memakai jaket, karena guru dan karyawan lain pun begitu. Kadang kala, ketika Kota panas terik, di sekolah kami hujan dengan sedikit berpetir.

Peningkatan Iman dan taqwa di sekolah ini memang seru-serunya digalakkan. Guru Agama, Kewarganegaraan, dan perangkat sekolah lain berganti-gantian untuk memandu acara pengisian ruhani ini. Tentu saja dibantu oleh Bapak Yatna sebagai Guru Olah Raga dan Bapak Ari sebagai Guru BK. Keduanya tetap berjaga di depan gerbang sekolah sambil membawa kertas absen. Bagaimana cara mengenali siswa satu-satu? Ya, mungkin itu kelebihan di sekolah ini. Jumlah muridnya dapat dihitung dengan jari.

Sebelumnya, sekolah ini tidak mempunyai pagar keliling, jadi siswa bisa masuk dari segala arah. Dari depan gerbang, dari samping, bahkan dari sungai di bawah sekolah. Kadang Ibu Guru berpapasan dengan siswa ketika membeli nasi untuk sarapan pagi. Itu juga yang menjadi alasan Pak Yatna selalu keliling sekolah dengan membawa dahan. Siswa ini sering masuk dan keluar sekolah tanpa ada halangan. Eh, hanya satu, kebun nanas di belakang sekolah. Kalau sudah mendekati panen, pasti mereka akan tertusuk duri dari daun dan pucuk buahnya.

Kembali ke acara ImtaQ sekolah, biasanya di awali dengan tadarusan dan penyampaian materi oleh siswa perwakilan kelas secara bergantian. Sekali lagi merbot (penjaga masjid-pen) Mushola yang selalu hadir tepat waktu adalah Madya. Siswa laki-laki dengan perawakan kecil dengan bibir yang selalu tersenyum. Tugas Madya adalah membagi Al-Qur’an dan mengumpulkannya kembali selesai ImtaQ. Sebenarnya ini bukan tugas yang dikukuhkan, hanya karena Madya rajin dan sering kali menyapu dan membersihkan Mushola.

Setelah ImtaQ berakhir, anak-anak masuk ke kelas masing-masing. Ada yang langsung belajar teori dan ada pula yang bersiap praktik. Tidak seperti hari biasa, kali itu damai sekali. Ibu Guru yang selalu mendapatkan jam terakhir dapat menghabiskan waktu di kantor Guru. Sesekali bertanya kepada Ibu Ketua Jurusan untuk beberapa kebingungan.

Siswa lalu lalang ke kantor guru biasanya pada jam istirahat atau saat pergantian jam, entah membantu Guru membawakan buku paket, mengumpulkan tugas, menyerahkan jawaban atau sekedar konsultasi dengan Guru Mata Pelajaran. Ibu Guru kemudian mulai ragu, kedamaian yang aneh macam apa yang membuat hatinya tidak tenang. Berkali-kali ditengoknya ruang praktek, ataupun halaman sekolah hanya untuk memastikan bahwa segalanya berjalan lancar.

Jam pelajaran terakhir dimulai, Ibu Guru masuk ke kelas XI, seperti biasa, untuk jam sedikit Ibu Guru mengisinya dengan teori atau ulangan. Dan dibalas keesokan harinya jika jam pelajaran cukup lama dipergunakan untuk praktek.

“Anak-anak, pada dasarnya dalam pembuatan keripik nanas yang dibutuhkan adalah bahan baku yang tidak matang. Ada yang tahu sebabnya?” Ibu Guru melempar pertanyaan ke penjuru kelas.

Beberapa siswa mengangkat tangan, ya bisa dibilang dalam kelas XI ini keaktifan siswanya sangat luar biasa. Ibu Guru memilih Heni untuk menjawab.

“Karena jika terlalu matang, nanti benyek bu. Sedang yang diharapkan adalah keripik buah yang renyah,” jawab Heni dengan pasti.

“Bagus”, puji Ibu Guru ke arah Heni. Heni hanya tersenyum simpul sambil menahan malu karena pujian Ibu Guru. Di belakangnya, banyak siswa yang iri, ingin sekali mendapat kesempatan menjawab pertanyaan.

Di sela-sela belajar, Sena izin ke kamar mandi. Kamar mandi toh terletak berdampingan dengan kelas XI sehingga tidak ada alasan untuk kabur ataupun bolos. Sekali lagi, bukan kebiasaan anak kelas XI untuk berbuat menentang peraturan.

“Ada yang tahu, tingkat kematangan nanas yang baik untuk keripik nanas?” lontar Ibu Guru.

Dengan sigap beberapa siswa mengangkat tangan, bahkan Heni pun kembali mengangkat tangan.

“Coba yang tercepat tadi, Wanda..”

Belum sempat Ibu Guru menyelesaikan kalimat, Sena masuk kelas sambil teriak, “Ibuuu, itu ada anak jatuuuh”.

Spontan Ibu Guru menghentikan kelas dan berlari ke arah Sena. Sena menunjuk seorang anak tepat di depan Mushola. Ternyata hampir semua Bapak/Ibu Guru lain pun melongok ke arah Mushola. Tergopoh-gopoh semua mendatangi anak tersebut.

Ibu Guru yang mendekati anak tersebut ternyata diikuti oleh beberapa siswa kelas XI yang penasaran. Setelah melihat lebih dekat, Ibu Guru bisa mengenali anak tersebut. Madya. Anak kelas X.

“Tidak sakit kok Bu”, ucap Madya sambil tersenyum simpul. Padahal Ibu Guru belum mengatakan apa-apa. Sesekali Madya memegangi kakinya sambil meringis.

“Bisa berdiri Nak?” tanya Ibu Guru.

“Bisa Bu.” Madya dibantu beberapa siswa untuk duduk di serambi Mushola.

Tampak sepeda motor tergelepar masih meraung-raung di depan mereka. Ibu Guru mulai menilai kejadian tersebut.

“Hei, kenapa itu?” Pak Yatna dari belakang Ibu Guru mulai mendekat.

Meski tampak ketakutan, Madya tetap berusaha tersenyum. “Tumben kali ini Madya?” tanya Pak Yatna.

Kerumunan dibubarkan, Ibu Guru dan siswa kelas XI kembali ke kelas, sedang Madya dibawa ke kantor guru oleh Pak Yatna.

Kelas usai, Ibu Guru kembali ke kantor Guru. Guru lain masih membicarakan kejadian tersebut, di pojokan Bapak Guru Agama cekikikan dengan Pak Yatna. Madya sudah diminta untuk pulang. Namun cerita Madya jatuh karena belajar naik motor pada jam pelajaran akan terus dibicarakan entah sampai kapan.

Posted in Opini

SimpaTIK Kembali Down

photo_2020-07-01_06-26-37

Beberapa waktu lalu Web SimpaTIK Kemendikbud sempat mengalami error saat melangsungkan ujian akhir Level 2 pada gelombang awal, ternyata kali ini Level 3 Gelombang awal pun dibiarkan melaju dengan tidak mulus pula dengan adanya maintanance sejak tanggal 21-28 Juni 2020. Kebijakan penggantian waktu yang terbuang pun menjadi kompensasi peserta pelatihan, sehingga besar harapan peserta bahwa kemudian dapat mengikuti pelatihan dengan aman seperti ketika mengikuti Level 1.

Pada 29 Juni web yang telah dimaintanance diinformasikan dapat kembali dibuka, namun sejak tanggal tersebut hingga hari ini, web SimpaTik sudah benar-benar tidak mampu menampung sekian ribu peserta. Peliknya adalah, pada 30 Juni 2020 pembukaan level 1 tahap 2 kembali dibuka, otomatis web harus menampung tambahan peserta baru yang bergabung. Kabar baiknya adalah peserta level 3 gelombang awal (1-3) diberikan kompensasi perpanjangan waktu hingga 5 Juli 2020. Dan di satu sisi kabar buruk yang didapat adalah tugas yang telah diupload, kuis, dll telah terhapus dari server. Untuk level nasional penyelenggaraan pelatihan, seharusnya kita dapat berharap lebih, ‘kan?

Posted in Opini

Profesionalisme Guru dan Nilai-Nilai Dasar ANEKA dalam Gagasan Smart ASN 2024

Oleh: Pranti Dwi Astuti, S.T.P.

(Peserta LatSar CPNS Gelombang III Prov. NTB 2019 pada Unit Kerja SMK Negeri 1 Pringgasela)

 

Rangkaian Pelatihan Dasar Calon Pegawai Sipil Negara (LatSar CPNS) Golongan II dan III Gelombang III Provinsi Nusa Tenggara Barat telah resmi ditutup pada Selasa, 6 Agustus 2019 di Aula Rinjani, Kantor BPSDMD NTB. Yang menarik pada kesempatan ini, komposisi peserta LatSar yang merupakan tenaga pendidik (guru), tenaga kesehatan (dokter, perawat, bidan, rekam medis dan beberapa jabatan lainnya), dan dari lulusan STTD, ternyata guru masih mendominasi dalam kuantitas peserta, yakni 63,59 % dari total 217 orang. Menilik lebih jauh komposisi ASN di tataran Nasional,  sesuai data BKN per 31 Desember 2018, tenaga pendidik mencapai angka 71,19 %. Angka ini bukan merupakan ketidaksengajaan, karena perhatian di bidang pendidikan memang sedang dan akan terus digalakkan. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional ke-IV (2020-2025) salah dua dari ketiga fokus utama adalah SDM berkualitas dan berdaya saing serta pembangunan karakter bangsa. Ranah ini erat kaitannya dengan pendidikan, sehingga dalam sistem pendidikan yang sedang berjalan, tenaga pendidik menjadi motor utama penggerak perubahan.

Tujuan yang mulia dan tinggi hanya dapat dijangkau dengan langkah yang massive dan progressive. LAN sebagai lembaga penyelenggara LatSar, membuat kurikulum baru yang terintegrasi dalam LatSar CPNS tahun 2018. LatSar ini dibagi dalam tiga tahapan, yakni Diklat Bela Negara, Pembentukan Karakter dan Internalisasi Nilai Dasar ASN dengan sistem on-class dan off-class (habituasi). Sehingga output yang dihasilkan pun sesuai dengan profil Smart ASN 2024, yakni Integritas, Nasionalisme, Profesionalisme, Wawasan Global, IT & Bahasa Asing, Hospitality, Networking dan Entepreneurship.

Transformasi perubahan sistem telah dimulai pada saat perekrutan dan seleksi. Secara sadar ataupun tidak sadar, pemerintah sedang membangun budaya integritas dalam pelaksanaan seleksi, baik dalam penentuan formasi maupun proses seleksi secara transparan dan terbuka. Hal baik ini, bergulir kembali dalam tahapan kedua yaitu Pengembangan Kompetensi, dan pintu gerbang pengembangan adalah dengan LatSar CPNS.

Pada on class, peserta dikenalkan dan ditanamkan Internalisasi Nilai-Nilai Dasar ASN di antaranya adalah Nilai ANEKA (Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu, dan Anti Korupsi). Bedanya dalam perhelatan besar ini, poin penting dalam penyelenggaraannya adalah bertumpu pada peningkatan profesionalisme profesi keahlian dan Wawasan Kebangsaan serta Bela Negara menjadi pemagar kedisiplinan peserta. Dan diaminkan dengan off-class, di mana peserta menggali Isu Strategis di tempat kerja dan mengubahnya menjadi gagasan dan tindakan.

Lebih khusus, CPNS Guru yang selama ini mendapatkan pelatihan profesi secara terpisah dan belum komprehensif, pada LatSar 2019 diharus melakukan habituasi pada lingkup kerjanya. Sehingga CPNS Guru dilatih untuk mengembangkan keilmuan dalam rangka menjadi solusi bagi permasalahan di Sekolah. Solusi yang ditawarkan bermacam tergantung kepada jabatan keahlian guru, dapat berupa teknis aplikatif, pembangunan budaya ASN, dan perbaikan sistem yang ada serta pembuatan sistem baru. ANEKA menjadi bahan bakar dalam kegiatan perubahan ini, secara khusus Komitmen Mutu mendasari langkah habituasi, karena peran Guru yang utama adalah sebagai pelayan publik, yakni di bidang pendidikan. Perbaikan mutu pendidikan ini terus dieskalasi dalam berbagai segi, sehingga alternative solusi pun akan semakin beragam. Kontribusi inilah yang akan terus dibangun dalam perubahan, sekali lagi karena Guru adalah motor penggerak (Agent of Change).

Nilai yang paling penting adalah dampak kebermanfaatan dalam skenario perubahan ini. Bagaimana kelak guru dapat bekerja sama menyelesaikan persoalan di sekolah, meningkatkan mutu pendidik dan peserta didik, serta memberikan kemanfaatan yang optimal. Harapan penulis adalah agar Guru hadir di tengah masyarakat, mencerdaskan dan memperbaiki karakter anak bangsa serta turut membangun masyarakat dengan keahlian yang dimilikinya. Smart ASN membawa perubahan kepada Smart Citizen, kemudian Smart Civilization dan terakhir bermuara pada Smart Nation. Semoga!

*Tulisan berikut disampaikan kepada Pembimbing Aktualisasi saat kegiatan berakhir sebagai bentuk testimonial peserta Latsar

Posted in puisi

Lembayung Rinduku Pada Doa

unknown person sitting indoors
Photo by Ali Arapoğlu on Pexels.com

Kekasih berbaju merah menyala
Padanya kutaksir segala makna gembira
Bersalut surga dan keindahan dunia
Menandingimu tak akan mampu

Jika jarak membuatku menepi dan bertapa
Rintihku dalam ramai adalah nama
Bisuku dalam amal adalah doa
Aku merindu tersedu-sedu

Kekasih mahkota kalam dan buaian permata
Dengungmu alunan indah getaran jiwa
Pesona yang tak lebur pada kawah candradimuka
Wahamku beradu rusuh pilu

Bilamana keakuan dapat terpangkas
Sesar panah melesat lekas
Semak hati kelesah cemas
Surut, menanti sekar bersemi di antara angan

Kekasih, pada waktu yang tertunda
Pada rasa yang semakin melara
Pada kunang riang beradu gelap dan cahaya
Pada pucuk-pucuk cemara basah tanpa bunga
Pada debur ombak bersahutan bersama
Pada dingin udara Tawangmangu-Surakarta
Sepotong asmara menyesakkan raga
Kepadamu

(Maret 2020)